Jumat, 24 Mei 2019


SEBLANG.

(Seblang Bakungan)

Banyuwangi merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya budaya yang sangat mendukung sebagai modal pengembangan kepariwisataan daerah. Dari sisi daerah, maka Daerah Banyuwangi telah diakui salah satu puncak budaya daerah yang memiliki unsur utama budaya nasional. Perwujudan budaya daerah Banyuwangi memiliki keunggulan yang spesifik yang memberikan garansi bagi pengembangan kepariwisataan daerah serta berfungsi sebagai pedoman tata nilai adiluhung dalam harmonisasi sosial masa sekarang dan patut diwariskan kepada generasi mendatang. 

Di Banyuwangi, tradisi bersih desa tidak hanya dilaksanakan dengan satu cara, namun beragam. Banyak cara yang bisa dilakukan, satu desa dan desa lain cenderung memiliki cara dan tradisi yang berbeda. Seperti di Gombolirang ada mocoan londar Baginda Yusuf, di Penataban ada ider bumi, di Kemiren ada barong , dan lain-lain. Sedang di Bakungan dan Olehsari dalam upaya melaksanakan bersih desa ada ritual Seblang. 

Berdasarkan kepercayaan masyarakat, seblang adalah singkatan dari Sebele Ilang (Sialnya hilang). Tradisi ini disakralkan oleh masyarakat sejak tahun 1930.

Penyelenggaraan tari Seblang di dua desa tersebut juga berbeda waktunya, di desa Olehsari diselenggarakan satu minggu setelah Idul Fitri, sedangkan di desa Bakungan yang bersebelahan, diselenggarakan seminggu setelah Idul Adha.

Para penarinya dipilih secara supranatural oleh seseorang yang biasa disebut masyarakat sekitar dengan Gambuh atau juga dikenal sebagai pawang, dan biasanya penari harus dipilih dari keturunan penari seblang sebelumnya. Di desa Olehsari, penarinya haruslah gadis yang belum akil baliq, sedangkan di Bakungan, penarinya haruslah wanita berusia 50 tahun ke atas yang telah habis masa haidnya (menopause).

Seblang di Desa Bakungan dilakukan satu malam, tepatnya seminggu setelah hari raya Idul Adha. Tujuan upacara ini adalah bersyukur kepada Tuhan dan memohon agar seluruh warga desa diberi ketenangan, kedamaian, keamanan, dan kemudahan mendapat rezeki yang halal, diselamatkan dari segala macam mara bahaya, termasuk menolak balak. Biasanya, ritual ini dibuka dengan Parade Oncor (obor) keliling desa (Ider Bumi) yang diikuti oleh seluruh warga. 

Sebelum upacara dibulai, terlebih dahulu warga Bakungan berziarah ke makam Buyut Fitri (leluhur desa) sambil membawa bermacam perlengkapan. Usai ziarah, mereka menyiapkan prosesi seblang dengan cara menuguhkan bermacam-macam syarat. Ada ketan sabrang, ketan wingko, tumpeng kinangan, bunga 500 biji, tumpeng takir, boneka, dan pecut, termasuk kelapa yang melambangkan kejujuran.
Ritual seblang dimulai seusai maghrib dan diakhiri pada tengah malam. Seblang di desa Bakungan ditarikan oleh seorang wanita tua yang sudah memasuki masa menopause. Biasanya tarian itu digelar di depan Sanggar Seni Bunga Bakung. 

Setelah dibacakan mantra dan doa, wanita tua itu langsung tidak sadarkan diri dan menari dalam keadaan kesurupan,. Lagu-lagu yang dikumandangkan untuk mengiringi penari seblang di desa Bakungan ada 12 lagu. dari kedua belas lagu itu, ada yang menceritakan tentang kehidupan, keramahan, lingkungan hidup, dan lain-lain. 

Sebelum penari seblang memasuki pentas, seluruh warga mematikan lampu. Yang menyala hanya obor di depan rumah masing-masing. Ketika ada bunyi kentongan, serentak warga makan bersama. Selamatan atau makan bersama itu sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan dan rahmat yang diberikan Tuha kepada masyarakat desa Bakungan. 

Pada awal pementasan, penari masuk pentas sambil membawa dua bilah keris. Gending pertama berjudul "Seblang-seblang" dimainkan oleh para wigoyo yang semua perempuan. Dalam keadaan tak sadar, penari akan menari selama 12 gending dimainkan. 

(Ketika penari Seblang tak sadarkan diri dan memegang 2 buah keris)

Ketika tengah malam, acaran dilajutkan dengan adol kembang (jual bunga). Disaat yang sama, para penonton berebut berbagai bibit tanaman yang dipajang di panggung dan mengambil kiling (baling-baling) yang dipasang di sangar. Masyarakat Bakungan percaya barang-barang itu dapat digunakan sebagai media penolak balak. 


-Semoga bermanfaat-

Ditulis oleh Iftitah Gita Ayu Praeswari untuk memenuhi nilai Tugas Seni Budaya kelas XI MIA Sma 17 Agustus 1945 Banyuwangi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar