SEBLANG.
(Seblang
Bakungan)
Banyuwangi
merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi sumber daya alam dan sumber
daya budaya yang sangat mendukung sebagai modal pengembangan kepariwisataan
daerah. Dari sisi daerah, maka Daerah Banyuwangi telah diakui salah satu puncak
budaya daerah yang memiliki unsur utama budaya nasional. Perwujudan budaya
daerah Banyuwangi memiliki keunggulan yang spesifik yang memberikan garansi
bagi pengembangan kepariwisataan daerah serta berfungsi sebagai pedoman tata
nilai adiluhung dalam harmonisasi sosial masa sekarang dan patut diwariskan
kepada generasi mendatang.
Di Banyuwangi,
tradisi bersih desa tidak hanya dilaksanakan dengan satu cara, namun beragam.
Banyak cara yang bisa dilakukan, satu desa dan desa lain cenderung memiliki
cara dan tradisi yang berbeda. Seperti di Gombolirang ada mocoan londar Baginda
Yusuf, di Penataban ada ider bumi, di Kemiren ada barong , dan lain-lain.
Sedang di Bakungan dan Olehsari dalam upaya melaksanakan bersih desa ada ritual
Seblang.
Berdasarkan
kepercayaan masyarakat, seblang adalah singkatan dari Sebele Ilang (Sialnya
hilang). Tradisi ini disakralkan oleh masyarakat sejak tahun 1930.
Penyelenggaraan
tari Seblang di dua desa tersebut juga berbeda waktunya, di desa Olehsari
diselenggarakan satu minggu setelah Idul Fitri, sedangkan di
desa Bakungan yang bersebelahan, diselenggarakan seminggu setelah Idul Adha.
Para penarinya
dipilih secara supranatural oleh seseorang yang biasa disebut masyarakat
sekitar dengan Gambuh atau juga dikenal sebagai pawang, dan biasanya penari
harus dipilih dari keturunan penari seblang sebelumnya. Di desa Olehsari,
penarinya haruslah gadis yang belum akil baliq, sedangkan di Bakungan,
penarinya haruslah wanita berusia 50 tahun ke atas yang telah habis
masa haidnya (menopause).
Seblang di Desa
Bakungan dilakukan satu malam, tepatnya seminggu setelah hari raya Idul Adha.
Tujuan upacara ini adalah bersyukur kepada Tuhan dan memohon agar seluruh warga
desa diberi ketenangan, kedamaian, keamanan, dan kemudahan mendapat rezeki yang
halal, diselamatkan dari segala macam mara bahaya, termasuk menolak balak.
Biasanya, ritual ini dibuka dengan Parade Oncor (obor) keliling desa (Ider
Bumi) yang diikuti oleh seluruh warga.
Sebelum upacara
dibulai, terlebih dahulu warga Bakungan berziarah ke makam Buyut Fitri (leluhur
desa) sambil membawa bermacam perlengkapan. Usai ziarah, mereka menyiapkan
prosesi seblang dengan cara menuguhkan bermacam-macam syarat. Ada ketan
sabrang, ketan wingko, tumpeng kinangan, bunga 500 biji, tumpeng takir, boneka,
dan pecut, termasuk kelapa yang melambangkan kejujuran.
Ritual seblang
dimulai seusai maghrib dan diakhiri pada tengah malam. Seblang di desa Bakungan
ditarikan oleh seorang wanita tua yang sudah memasuki masa menopause. Biasanya
tarian itu digelar di depan Sanggar Seni Bunga Bakung.
Setelah
dibacakan mantra dan doa, wanita tua itu langsung tidak sadarkan diri dan
menari dalam keadaan kesurupan,. Lagu-lagu yang dikumandangkan untuk mengiringi
penari seblang di desa Bakungan ada 12 lagu. dari kedua belas lagu itu, ada
yang menceritakan tentang kehidupan, keramahan, lingkungan hidup, dan
lain-lain.
Sebelum penari
seblang memasuki pentas, seluruh warga mematikan lampu. Yang menyala hanya obor
di depan rumah masing-masing. Ketika ada bunyi kentongan, serentak warga makan
bersama. Selamatan atau makan bersama itu sebagai bentuk rasa syukur atas
limpahan dan rahmat yang diberikan Tuha kepada masyarakat desa Bakungan.
Pada awal
pementasan, penari masuk pentas sambil membawa dua bilah keris. Gending pertama
berjudul "Seblang-seblang" dimainkan oleh para wigoyo yang semua
perempuan. Dalam keadaan tak sadar, penari akan menari selama 12 gending
dimainkan.
(Ketika
penari Seblang tak sadarkan diri dan memegang 2 buah keris)
Ketika tengah
malam, acaran dilajutkan dengan adol kembang (jual bunga). Disaat yang sama,
para penonton berebut berbagai bibit tanaman yang dipajang di panggung dan
mengambil kiling (baling-baling) yang dipasang di sangar. Masyarakat Bakungan
percaya barang-barang itu dapat digunakan sebagai media penolak balak.
-Semoga
bermanfaat-
Ditulis
oleh Iftitah Gita Ayu Praeswari untuk memenuhi nilai Tugas Seni Budaya kelas XI
MIA Sma 17 Agustus 1945 Banyuwangi.


